Categories
Parenting

Gurihnya Ilmu Matematika

Mateatika “Gaya Bebas”

Pengalaman mengajarkan matematika kepada anak pertamanya mendorong pria lulusan Institut Pertanian Bogor ini mencari lebih jauh ilmu matematika. “Tahun 2001, anak pertama saya, Agung, kelas 1 SD, merasa kesulitan mengerjakan PR matematika dari sekolah. Setelah saya ajarkan dengan caracara yang saya ketahui, malah membuatnya marah dan semakin menjadi tangisnya. Dia mengatakan bahwa cara saya tidak sama dengan cara ibu gurunya. Setelah saya amati bukunya, ternyata memang beda dengan cara yang diajarkan di sekolah,” tutur Bekti Hermawan Handojo di kantornya di Cimanggu City, Bogor.

Pengalaman tersebut juga menyisakan pemikiran yang mengganjal. “Masa iya sih matematika selama puluhan tahun dikerjakan dengan cara-cara yang monoton? Bayangkan saja, sejak saya masuk SD (1974), cara mengerjakannya begitu saja, tidak ada dinamikanya, kering. Anak tidak bisa menikmati,” tegasnya. Selanjutnya, peristiwa itu memunculkan gagasan untuk mengajarkan matematika dengan cara-cara kreatif alias “gaya bebas” yang dapat membebaskan anak dari rasa bosan dan membodohkan diri sendiri.

Hal itu pula yang mendorongnya untuk menekuni dan mempelajari ilmu matematika. “Padahal, awalnya saya juga kurang suka matematika. Tetapi motivasi untuk membantu anak-anak memahami matematika, membuat jalan hidup saya justru harus menggeluti dunia bilangan yang terus berkembang hingga kini,” lanjut ayah 4 anak ini.

Matematika “gurih”

Menurutnya, untuk menyampaikan matematika agar diminati, khususnya oleh anakanak, maka cara menyajikannya harus terlihat menggairahkan, mengundang selera. Ketika matematika disajikan dengan cara-cara kuno, kering, “tak bergizi”, sudah pasti tidak dapat membangkitkan minat anak. “Salah satu cara yang saya tempuh adalah menambahkan ’gizi‘ dan ’pemanis buatan‘ pada setiap konsep matematika, sehingga matematika menjadi manis di lidah dan renyah untuk dicerna.” Proses penambahan “gizi” dan “pemanis” itu dikenal dengan nama “eksakta integra Islamica”, yaitu menambahkan nilai-nilai Islami dalam setiap konsep matematika yang sedang dipelajari.

“Penyajiannya pun dengan cara dialog antara orangtua-anak atau guru-murid. Konsep matematika pun menjadi semakin berbobot karena ’kandungan gizi‘ nilai-nilai Islami di dalamnya ikut dikupas dan dibahas bersama orangtua-anak,” papar Bekti yang memberi nama perusahaannya, “Eksakta Integra Islamica”, yang memiliki makna menambahkan nilai-nilai Islami dalam setiap konsep matematika yang sedang dipelajari Menekuni ilmu matematika kemudian mengolahnya menjadi “gurih” bukannya tanpa tujuan.

Bekti berharap mampu mengantarkan anak-anak Indonesia agar mampu memahami dan menguasai matematika, khususnya di jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP). Pijakan yang kuat pada tingkat dasar akan memperkokoh bangunan di atasnya, yaitu bangunan “logika” yang luas tanpa tepi. “Jadi, harapannya anak-anak mampu menggunakan logikanya untuk jangka panjang dalam kehidupannya kelak, sehingga mereka tidak mudah dibodohi.”

Namun, Bekti mengaku tidak berambisi untuk “mencetak” anak-anak menjadi juara olimpiade matematika. Menurutnya, menjadi juara dalam sebuah lomba hanyalah salah satu pilihan, tidak wajib. Tetapi “mengorbitkan” anak-anak untuk berani bertanggung jawab terhadap ilmu matematika yang dikuasainya itu jauh lebih penting, lebih sulit, dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa.

Selain ilmu matematika, ilmu bahasa juga sangat penting sekali, terutama untuk anak yang akan mengikuti tes IELTS. Rekomendasi tempat kursus IELTS terbaik di Jakarta adalah yang tepat agar anak siap dan lancar dalam mengerjakan semua soal tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *