instrumen investasi

Cara lain untuk mendapatkan bitcoin adalah dengan membelinya. Tapi, cara membelinya tidak sama dengan ketika kita membeli emas, misalnya. Sebab, bitcoin hanya diperjual-belikan di tempat khusus di dunia maya. Sifatnya yang seperti alat tukar membuat bitcoin diperjual-belikan di sebuah bursa. “Bentuknya kurang lebih sama dengan bursa saham,” kata Oscar. Oleh karena itu, orang yang sebelumnya sudah terbiasa mengamati pergerakan saham atau menginvestasikan uangnya dalam bentuk valuta asing (foreign exchange atau forex) tidak asing lagi dengan tampilan yang ada di bursa bitcoin. Di Indonesia, sebenarnya sudah ada beberapa tempat untuk berjual-beli bitcoin yang dikenal dengan nama bitcoin exchanger. Akan tetapi, ada satu bursa bitcoin yang merupakan bursa bitcoin pertama di Indonesia dengan alamat bitcoin.co.id. bursa tersebut dikelola oleh Bitcoin Indonesia yang dipimpin Oscar.

Setelah resmi dibuka dan diperkenalkan kepada publik bulan Februari lalu, Bitcoin Indonesia sampai saat ini sudah memiliki 5.258 member. Sementara jumlah/nilai transaksinya mencapai 28 bitcoin (setara dengan Rp140.000.000) per hari atau sekitar Rp5.000.000.000 per bulan. Jumlah itu diyakini Oscar akan terus meningkat seiring semakin banyaknya orang yang memiliki bitcoin. Eko Juniarto, seorang penambang bitcoin yang bekerja di salah satu perusahaan TI adalah termasuk salah satu pendukung adopsi bitcoin. Ia optimistis adopsi bitcoin akan semakin meluas dan terus berkembang meskipun tanpa dukungan dari pemerintah. Menurut Eko, penghalang utama adopsi bitcoin di Indonesia adalah FUD (fear, uncertainty, doubt) dari pihak BI.

“Selama FUD itu masih dipropagandakan, kemungkinan orang awam menerima bitcoin sebagai cryptocurrency akan berkurang,” katanya. Tidak jauh berbeda dengan Eko, Oscar pun punya keyakinan yang sama tentang perkembangan bitcoin. Bangkrutnya bursa bitcoin besar di dunia seperti Mt. Gox yang baru-baru ini disusul dengan kebangkrutan Flexcoin, bukanlah indikator runtuhnya kepercayaan pengguna terhadap bitcoin. “Kejadian yang menimpa Mt. Gox bukan disebabkan kelemahan sistem Bitcoin, akan tetapi berkaitan dengan masalah keamanan website-nya,” jelas Oscar. Ia menambahkan, secara teknis, keamanan jaringan Bitcoin belum ada yang bisa menembus.

Sejumlah pendukung bitcoin bahkan menyebut kejatuhan Mt. Gox menguntungkan dan menandai periode amatir cryptocurrency ini. Seperti diketahui, Mt. Gox mengajukan perlindungan kebangkrutan di Jepang pada akhir Februari dan melakukan hal yang sama di Amerika Serikat pertengahan Maret lalu. Mt. Gox menghentikan operasionalnya pada 24 Februari dan mengaku kehilangan sekitar 850.000 bitcoin yang nilainya mencapai hampir US$500.000.000. Dari jumlah tersebut, aset perusahaan berjumlah 100.000 bitcoin sementara 750.000 bitcoin lainnya adalah milik nasabah. Sampai saat ini, sistem Bitcoin sendiri masih aman dan belum ada yang bisa melakukan hacking untuk mengacaukan desain yang telah dibuat.

Oleh karena itu, jatuhnya nilai bitcoin setelah kasus Mt. Gox tidak akan menggoyahkan stabilitasnya. “Sejarah telah membuktikan, nilai bitcoin pernah jauh lebih terpuruk dibandingkan keterpurukannya setelah kasus Mt. Gox ini. Dan setelah itu, bitcoin tetap bisa bangkit kembali. Ini tidak pernah bisa dilakukan oleh mata uang apa pun di seluruh dunia,” ujar Oscar. Jika benar demikian, bitcoin tentu akan menjadi instrumen investasi yang menarik di masa depan. Ketika cadangan emas terus menipis, bitcoin bisa menjadi “emas” baru yang nilainya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *