Categories
Berita

Menambang BITCOIN

Jika mengacu pada analogi yang dikemukakan Oscar, semakin jelas alasan mengapa aktivitas untuk mendapatkan bitcoin disebut dengan menambang (mining). Sebab, tingkat kesulitan untuk mendapatkan bitcoin memang tidak ubahnya seperti menambang emas. Setiap pengguna yang terhubung ke jaringan Bitcoin berpeluang untuk mendapatkan cryptocurrency ini dengan menggunakan hardware dan software khusus. Kemungkinan seseorang untuk mendapatkan bitcoin sangat tergantung pada kekuatan komputasi yang dikontribusikan ke dalam jaringan. Selain itu, gabungan kekuatan komputasi dari semua node yang tergabung dalam jaringan juga amat menentukan. Kekuatan jaringan Bitcoin sendiri digambarkan dengan hash rate, yaitu estimasi kasar dalam memproses “hash” (SHA256(SHA2569(x)).

Hash inilah yang mendominasi workload pemrosesan blok-blok penghasil bitcoin. Hash rate menunjukkan dua hal, kecepatan kode untuk melakukan proses dan kecepatan hardware untuk memproses kode tersebut. Kemungkinan untuk menemukan sebuah blok penghasil bitcoin proporsional dengan hash rate suatu perangkat yang digunakan untuk menambang. Apabila dilakukan pengamatan dalam jangka waktu yang cukup, penambang bisa mendapatkan bitcoin sesuai de-ngan persentase dari total porsi tenaga penambangan yang disumbangkan.

Prinisip ini berlaku untuk penambang perorangan (solo mine) maupun penambang berkelompok (pool mine). Contohnya, jika dijalankan dalam waktu yang cukup lama, perangkat penambang berkekuatan 10 GH/s bisa “menangkap” bitcon 12,5 kali lebih banyak dibandingkan perangkat penambang berkekuatan 800 MH/s. Eko Juniarto, salah seorang penambang aktif bitcoin, berbagi sedikit pengalamannya mengenai aktivitas cryptocurrency mining ini. Ia pertama kali mengenal bitcoin awal tahun lalu, ketika nilai bitcoin berada di kisaran US$50 dan semakin menurun terhadap mata uang riil. “Dulu saya mining dengan menggunakan CPU dan GPU, tapi tahun ini sudah beralih menggunakan chip miner khusus,” katanya.

Saat menanyakan alasannya beralih dari CPU dan GPU ke chip miner khusus, Eko menjawab, “karena perbedaannya bagaikan langit dan bumi”. Sebagai ilustrasi, mining dengan menggunakan CPU quadcore extreme hanya mencatat hash rate 6 MH/s, mining dengan menggunakan GPU NVIDIA GTX 580 mencapai 150 MH/s (25 kali lebih cepat dibandingkan CPU quad-core extreme). Sedangkan mining menggunakan Red Fury bisa mencapai 2,5 GH/s (hampir 17 kali lebih cepat dibandingkan GPU NVIDIA GTX 580)! Selain itu, dari sisi harga dan konsumsi listrik, Red Fury jauh lebih rendah.

Harga CPU quad-core extreme, NVIDIA GTX 580, dan Red Fury berturut-turut adalah Rp2,5 juta, Rp5 juta, dan Rp1 juta. Sementara konsumsi listrik CPU quad-core extreme, NVIDIA GTX 580, dan Red Fury berturut-turut adalah 90 watt, 300 watt, dan 2 watt. Perangkat yang digunakan untuk menambang bitcoin ini cukup beragam. Penambang pemula biasanya memulai aktivitasnya menggunakan perangkat yang paling “sederhana” seperti komponen PC (CPU dan GPU).

Setelah merasa perlu tenaga komputasi yang lebih mumpuni untuk menambang bitcoin, perangkat dengan chip miner khusus yang juga dikenal sebagai ASIC bitcoin miner. Perangkat yang terakhir disebut ini memang dirancang secara khusus untuk menambang cryptocurrency seperti bitcoin. Wujudnya bisa berupa USB flash drive, mining card yang mirip seperti GPU, atau seperti sebuah mini PC. Salah satu produsen yang khusus mengembangkan ASIC bitcoin miner adalah Butterfly Labs.

Uniknya, ada salah satu GPU yang menjadi favorit para penambang bitcoin karena perbandingan antara kinerja dan harganya yang mengesankan. GPU itu adalah Radeon R9 290X. Menurut Oscar, hal ini bisa terjadi karena GPU tersebut memiliki kemampuan komputasi algoritma yang lebih baik dibandingkan GPU dari NVIDIA. Terlebih lagi, harganya lebih terjangkau dibandingkan pesaingnya. Inilah yang menyebabkan GPU tersebut sempat hilang dari pasar, seperti diberitakan oleh Maximum PC akhir tahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *