Nutrisi untuk Anak Bangsa Bagian 2

Nutritalk spesial kali ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. PH. Endang L. Achadi, MPH, guru besar tetap Ilmu Gizi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang mempresentasikan “1000 Hari Pertama yang menentukan Masa Depan Bangsa”.

Juga hadir Dr. Pinky Saptandari, MA, staf khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, yang mempresentasikan “Dukungan Keluarga & Budaya untuk Pemenuhan Gizi Pada Awal Kehidupan”. Puncak acara perayaan ulang tahun ke-60 Sarihusada tahun ini diisi dengan event Fun Walk yang dimulai dari alun-alun Yogyakarta. Usai Fun Walk diadakan games untuk keluarga besar Sarihusada, yaitu lomba kreasi tumpeng, yang bertujuan mendekatkan dan menyosialisasikan pemenuhan tumpeng gizi.

Dalam sambutan dan ucapan terima kasihnya kepada semua pihak, Presiden Direktur Sarihusada, Olivier Pierredon mengatakan, selama 60 tahun melewati kondisi ekonomi yang berbeda-beda serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Sarihusada secara konsisten memproduksi nutrisi ibu dan anak yang berkualitas dan terjangkau, juga cocok bagi masyarakat Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena Sarihusada lahir dan dikembangan oleh bangsa Indonesia. Olivier pun menyampaikan, “Untuk dapat memproduksi nutrisi yang berkualitas, terjangkau, dan dapat diterima oleh lapisan masyarakat terbesar Indonesia, kami mengandalkan penelitian dan inovasi. Inovasi ini juga kami lakukan agar nutrisi yang kami hasilkan sesuai dengan perkembangan zaman dan gaya hidup.”

Tak Mau Makan Buah Potong

Dokter Rifan, kenapa anak saya (2), kok enggak suka sama buahbuahan yang dipotong/dikupas? Setiap dikasih pasti dilepeh. Tapi kalau buahnya dijus langsung diminum habis. Saya khawatir, apakah boleh mengonsumsi buah dijus terus? Apa dampaknya? Saya ingin melatihnya makan buah potong agar giginya terbiasa mengunyah. Saya mohon saran Dokter. Terima kasih. Bunniya – Serang.

Mungkin si kecil belum mampu menelan buah dalam bentuk utuh. Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab, ia tidak menyukai tekstur, rasa, maupun bau dari buah tersebut, re!eks menelan yang belum sepenuhnya optimal, dan sebagainya. Minum jus buah tidak akan menyebabkan dampak negatif bagi si kecil. Namun demikian saya setuju Ibu perlu terus melatihnya memakan buah-buahan langsung (buah segar potong). Latihlah secara bertahap seperti dalam bentuk potongan-potongan yang lebih kecil, lebih halus, dan sebagainya.

Nutrisi untuk Anak Bangsa

Sarihusada dulu bernama NV Saridele hadir di Indonesia sejak 1954 di kota Yogyakarta dengan tujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia yang pada saat itu banyak mengalami kekurangan gizi. Meski bereinkarnasi menjadi Sarihusada, misinya tetap sama, yaitu memberikan nutrisi untuk bangsa Indonesia. Belum lama ini, di usia yang ke-60, PT Sarihusada Generasi Mahardika (Sarihusada) kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung peningkatan kualitas anak Indonesia melalui penyediaan produk nutrisi awal kehidupan yang terjangkau serta program peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi dan kesehatan ibu-anak.

Tema peringatan ulang tahun adalah “Sebuah Cinta Bernama Sarihusada” dengan menggarisbawahi misi Sarihusada bagi kesehatan ibu dan anak Indonesia yang diwujudkan dalam bentuk produk berkualitas, edukasi, dan inisiatif-inisiatif sosial. Salah satu bentuk edukasi yang dijalankan bersamaan dengan perayaan ulang tahun ke-60 di Yogyakarta, Sarihusada mengajak media nasional dan lokal untuk melihat dan membuktikan langsung komitmen Sarihudasa di pabrik Klaten, Jawa Tengah.

Seluruh media yang datang, termasuk nakita, mendapat banyak penjelasan dari sejarah Sarihusada hingga produksi dan kualitas produksinya. Terbukti, sampai 3 tahun berturut-turut Sarihusada menerima Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup. Quality control benar-benar dijaga, mulai kedatangan bahan baku, proses pengolahan, hingga pengepakan. Tak heran jika Sarihusada mengantongi standar food safety nasional maupun global; telah terserti!kasi HACCP, ISO 22000, dan FSSC 22000, juga serti!kasi halal MUI. Sarihusada pun memerhatikan karyawannya dengan baik, dan mengantongi serti!kasi SMK3 dan OHSAS 18000 untuk keamanan karyawan. Karyawan wanita mendapat 4 bulan cuti melahirkan.

Tak sampai di situ, Sarihusada rutin melakukan program Nutritalk, yang juga selalu diikuti nakita, sebuah program diskusi yang melibatkan pakar di bidang gizi, juga wartawan kesehatan dan blogger. Pada saat itu pun masih dalam rangkaian perayaan 60 tahun Sarihusada diselenggarakan Nutritalk dengan tema “Nutrisi Optimal Bagi 1000 Hari Pertama Awal Kehidupan sebagai Investasi bagi Kualitas kesehatan di Masa depan”.

Nutrisi untuk anak bangsa sangatlah penting sekali untuk tumbuh dan kembang anak. Akan tetapi pembelajaran juga hal yang penting pula. Tanpa adanya pembelajaran anak tidak akan mendapatkan ilmu apapun. Untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing bisa mengikuti pelatihan bahasa asing di tempat kursus bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik.

Akuakultur Indonesia Menuju Revolusi Biru

“Dalam SiSTem Dan USaha agribiSniS aKUaKUlTUr yang paling lemah saat ini adalah onfarm. Bagaimana mendorong on-farm ini mengubah paradigmanya dari budaya tradisional ke budaya bisnis dan melihat akuakultur sebagai suatu sistem dan usaha agribisnis untuk mewujudkan revolusi biru,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA.

Apakah Indonesia punya pengalaman revolusi dalam agribisnis?

Kita sudah punya tiga revolusi di bidang agribisnis. Pertama, revolusi hijau di bidang pangan dengan swasembada beras pada 1984. Kedua, revolusi ung – gas mencapai swasembada ayam negeri, baik da – ging maupun telurnya. Dan ketiga, revolusi sawit yang dimulai dari kerjasama antara PTPN dengan petani plasma, lalu datang para pengusaha swasta dan petani mandiri. Sekarang kita menjadi raja sawit dunia karena ada kerjasama yang baik antara para petani, pengusaha, dan pemerintah. Saat ini sekitar 45% dari total sawit tersebut ada di tangan petani. Kata kunci keberhasilan dari ketiga revolusi tersebut adalah kemitraan yang baik antara petani/peternak, pengusaha, dan pemerintah. Masalah utama di perikanan budidaya adalah paradigma para pelakunya termasuk pemerintah yang melihat akuakultur sebagai budaya atau way of life belum sebagai bisnis. Jika melihatnya sebagai bisnis, maka harus mengutamakan pasar dan perhi – tungan laba rugi. Misalnya, pasar membutuhkan udang, maka fokus usaha pada udang termasuk kebijakan, strategi, program, dan sumberdayanya. Dengan demikian bisnis udang ini bisa berkembang lebih besar seperti sawit. Tidak berlebihan jika mengharapkan revolusi agribisnis keempat di Indonesia akan datang dari budidaya udang.

Bagaimana kita memulainya?

Mulailah dengan yang sudah kita miliki dan dari titik paling lemah. Kembangkan model yang tidak menyisihkan rakyat. Subsistem on-farm di akuakultur merupakan titik paling lemah dalam sistem agribis – nis. Sekarang on-farm atau budidaya masih 80% SUARA AGRIBISNIS Bungaran Saragih tradisional, maka mulai dari yang tradisional ini dimo – dernisasi. Perlu diubah paradigmanya dari budaya tra – disional menjadi budaya modern atau budaya bisnis. Lalu perlu dibentuk organisasi bisnisnya, apakah itu dalam satu komoditas atau dalam satu wilayah ter – tentu seperti kluster. Selanjutnya mereka diajarkan ber organisasi secara modern. Jika organisasi ini telah terbentuk, kaitkan dengan industri hulu dan hilirnya secara baik. Biasanya di hulu dan hilir sudah merupakan industri modern dan usaha yang sudah maju.

Karena itu, perlu dikembangkan kemitraan yang baik antara organisasi petambak dan petani ikan (on-farm agribusiness) dengan industri hulu dan hilir (up-stream dan downstream agribusiness). Alasannya, tidak mungkin akan diperoleh industri hulu dan hilir yang maju jika onfarm-nya tetap tradisional. Jadi harus ada semangat kebersamaan, semangat kemitraan yang sinergis satu sama lain sehingga kita bisa menjadikan akuakultur sebagai revolusi biru.

Bagaimana dengan pengembangan riset akuakultur?

Untuk mengembangkan riset modern di perikanan budidaya perlu ditiru pengembangan riset di sawit. Riset di sawit diawali dari riset milik pemerintah, bela – kangan berkembang juga riset modern dari per usa – haan-perusahaan sawit swasta. Dari riset modern ini dihasilkan benih-benih baru, teknologi pupuk dan pe – mupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta pro sesing yang maju. Sementara di akuakultur riset masih sangat tergan – tung pada pemerintah terutama yang dilakukan pu satpusat penelitian di lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sebenarnya perikanan budidaya bisa le bih maju risetnya dan lebih cepat perkembang an nya dengan meniru model yang dikembangkan di in dustri sawit. Dan riset yang baik hanya mungkin dila ku kan perusahaan-perusahaan yang sudah mempu nyai modal dan sumberdaya manusia yang besar dan baik. Penelitian mengenai pembibitan, pakan ikan, obatobatan modern merupakan topik penelitian yang per lu mendapat prioritas dalam pengembangan akua kultur. Dalam hal ini akuakultur bisa belajar dari peng alaman pengembangan agribisnis ayam modern di Indonesia.