Tips Mendesain Ruang Makan yang Nyaman

Gunakan bahan penutup lantai yang mudah dibersihkan, sepert keramik, mengingat banyak kemungkinan minyak masakan yang tumpah ke lantai. Namun, pilih juga material lantai yang ant -slip. Sesuaikan ukuran ruang dengan pemilihan bentuk furnitur. Jika ruangannya sempit, jangan pilih furnitur berukuran besar, agar ruangan tidak terasa bulky.  

Pilih furnitur dengan bentuk dan material yang tahan air dan mudah dibersihkan salah satunya material kaca untuk meja makan. Selain itu, hindari sudut-sudut tajam, terutama bila Anda memiliki anak kecil. Ruang makan ini dirancang dengan 3 kelebihan: akses dekat menuju dapur dan ruang keluarga, jendela kaca besar menghadap taman sebagai celah sirkulasi udara, dan aksen dekoratif di salah satu dinding. Tujuannya, agar acara makan bersama keluarga kami bisa berjalan nyaman, akrab, dan tetap menjamin kesehatan seluruh keluarga kami.

Kemudahan akses merupakan salah satu syarat utama peletakan sebuah ruang makan. Terutama, aksesnya terhadap dapur. Di rumahrumah mungil, seringkali ruang makan dan dapur bersatu. Namun, idealnya, ruang makan memiliki jarak dan pembatasan zona aktivitas yang jelas dengan dapur, tapi tetap berdekatan.

Kesehatan adalah poin penting yang harus dipenuhi dalam ruang makan. Salah satu hal yang memengaruhi kesehatan adalah sirkulasi udara. Dibutuhkan banyak bukaan seperti jendela dan pintu di dinding ruangan. Tak hanya mendapatkan udara yang sehat, dengan bukaan yang banyak, asap-asap masakan pun dapat keluar ruangan dengan mudah.

Sesuaikan ukuran, bentuk dan desain furnitur ruang makan dengan kebutuhan dan ritual makan keluarga Anda. Dengan furnitur berbentuk custom yang bisa digunakan sesuai kegiatan dan kebutuhan makan serta sesuai dengan karakter semua anggota keluarga.

Pemilihan warna memiliki kaitan erat dengan sisi psikologis sang penghuni. Anda pun harus berhati-hati menentukan warna dalam ruang makan ini. Anda juga dapat menambahkan warna yang bisa membuat nafsu makan bertambah. Seperti warna merah dan warna jingga yang menjadi elemen utama ruang makan yang nyaman. Warna tersebut bisa diterapkan pada dinding , furnitur, dan aksesoris lainnya.

Fungsi ruang makan telah bergeser menjadi area berkumpul keluarga. Karena itulah, pencahayaan di ruang makan sangat penting agar suasana selalu hangat dan bisa membuat keakraban antar anggota keluarga. Pancarkan cahaya lampu yang halus dan lembut, tetapi tidak redup. Anda juga bisa memilih lampu gantung, tetapi hindari pemilihan lampu yang terlalu rendah.

Selain itu juga dibutuhkan sebuah genset sebagai sumber listrik cadangan ketika listrik dari PLN sedang padam. Genset yang murah untuk rumah tangga bisa didapatkan melalui Distributor resmi Jual genset Cummins di Jakarta.

Satu Area yang Serba Guna

Pernahkah Anda menonton film-film Hollywood berlatar benua Eropa pada abad pertengahan? Mungkin Anda pernah melihat adegan perjamuan makan malam di dalam film tersebut. Meja yang besar dan memanjang untuk banyak orang, tempat lilin dan suasana desain ruang makan yang cukup suram. Hal-hal ini lah yang mendominasi imajinasi Anda tentang suasana ruang makan di masa silam. Memang, bayangan tersebut tak jauh berbeda dengan kenyataan yang tercatat di sejarah desain ruang makan.

Dahulu kala, kaum bangsawan Eropa memiliki sebuah ruangan besar di dalam kastil dan rumahnya, yang biasa disebut dengan Great Hall. Biasanya, seluruh anggota keluarga menyantap menu-menu masakan di ruang lapang tersebut. Bahkan, pada abad-abad pertengahan tersebut, ruang makan dan dapur berada di lantai yang berbeda. Berbeda jauh dengan bentuk dan letak ruang makan di era modern ini. Tak hanya negeri-negeri Eropa yang menempatkan ruang makan jauh dari dapur.

Benua Asia seperti Cina dan Jepang memisahkan dua ruangan ini dengan pembagian zona aktivitas yang jelas. Berbeda jauh dengan desain kompak masa kini, di mana ruang makan dan dapur menjadi sebuah kesatuan, terlebih lagi di hunian-hunian berlahan mungil. Pada maknanya, ruang untuk makan adalah ruangan yang terbilang sebagai tempat semua penghuni rumah untuk menyantap makanannya.

Akan tetapi, dalam kenyataannya luas lahan yang tidak begitu luas, dan disertai dengan kegiatan anggota rumah yang sangat padat, fungsi ruang makan pun berkembang lebih luas. Kebanyakan keluarga kini memanfaatkan waktu-waktu di ruang makan—seperti sarapan, santap siang ataupun makan malam—sebagai area berbincang antar-anggota keluarga. Bentuk ruang makan modern pun cenderung sederhana, tanpa profi l berlebih dan terkesan lebih “akrab”.

Bahkan tidak seperti yang ada di masa lalu, dimana ruang makan memiliki desain yang tertutup dan dibatasi oleh dinding. Banyak sekali keluarga sekarang ini mengubah desainnya dengan konsep terbuka. Teras, Gazebo, taman dan bahkan halaman belakang pun sekarang ini digunakan sebagai ruang makan. Apalagi jika tidak ada lahan yang mencukupi untuk tempat tersebut.

Agar kenyamanan di rumah tetap terjaga ketika sedang ada acara makan malam bersama dengan seluruh anggota keluarga, perlu adanya sebuah genset sebagai sumber listrik cadangan. Karena manfaat genset sebagai sumber lsitrik alternatif pengganti listrik dari PLN. Untuk mendapatkan harga genset yang murah bisa membelinya melalui Distributor resmi jual genset 1000 Kva di Jakarta.

Gurihnya Ilmu Matematika Bagian 2

Berbagi Perang dengan Istri

Bekti tidak hanya meramu matematika untuk orang lain, tapi juga untuk keluarga. “Saya lebih yakin jika mengajarkan matematika pada anakanak itu kami tangani sendiri, setidaknya untuk saat balita. Kami mengajarkan matematika benarbenar dari dasar. Kami memberikan pemahaman bahwa matematika tidak selalu berkaitan dengan angka, bilangan atau proses perhitungan. Membandingkan sebuah benda dari yang terkecil hingga yang terbesar juga merupakan salah satu dasar pemahaman matematika.

Selain itu, angka yang harus dikuasai pun tidak lebih dari 20. Sebab, nantinya berapa pun bilangan yang akan dihitung, semuanya kembali kepada angka 1 hingga 20. Sama persis dengan jumlah jari tangan dan jari kaki,” papar suami dari Siti Nurhasanah ini. Bekti menegaskan, hanya mengajarkan konsep dasar dengan baik dan mengenalkan angka hingga 20 saja, maka kendala yang dihadapi dari segi teknis matematikanya hampir tidak ada. Kendala yang sering muncul untuk anak-anak balita adalah orangtua yang biasanya kurang sabar.

Sementara untuk anak-anak SD dan SMP biasanya kendala yang sering timbul adalah “persaingan” antara materi yang akan diajarkan dengan tugas-tugas sekolah yang menumpuk. Selain mengajarkan matematika, Bekti menyadari bahwa tugas orangtua adalah mengasuh anak. Untuk itu, ayah dari Agung Adi Handoko Putro (18), Adinda Rizqi Caesaria Putri (15), Ganendra Fadilah Putra Hermawan (4), dan Khansa Anandita Putri Hermawan (2) ini mengaku tidak boleh egois mengutamakan pekerjaan kantor semata. Mengasuh anak juga bagian dari tanggung jawab ayah.

“Dalam pola asuh di keluarga kami, untuk pendidikan umum dan eksakta diserahkan kepada ayah. Sedangkan untuk pendidikan Islam, istri lebih berperan. Hasilnya akan lebih dahsyat jika kemampuan saya dan istri diintegrasikan. Misalnya, kita ajarkan mengapa anak-anak harus saling tolong-menolong dalam kebaikan. Tolong-menolong dalam kebaikan adalah salah satu konsep ajaran Islam yang sering kami ajarkan menggunakan media matematika. Sangat inspiratif bagi anak atau murid,” tutur Bekti mengakhiri.

Gurihnya Ilmu Matematika

Mateatika “Gaya Bebas”

Pengalaman mengajarkan matematika kepada anak pertamanya mendorong pria lulusan Institut Pertanian Bogor ini mencari lebih jauh ilmu matematika. “Tahun 2001, anak pertama saya, Agung, kelas 1 SD, merasa kesulitan mengerjakan PR matematika dari sekolah. Setelah saya ajarkan dengan caracara yang saya ketahui, malah membuatnya marah dan semakin menjadi tangisnya. Dia mengatakan bahwa cara saya tidak sama dengan cara ibu gurunya. Setelah saya amati bukunya, ternyata memang beda dengan cara yang diajarkan di sekolah,” tutur Bekti Hermawan Handojo di kantornya di Cimanggu City, Bogor.

Pengalaman tersebut juga menyisakan pemikiran yang mengganjal. “Masa iya sih matematika selama puluhan tahun dikerjakan dengan cara-cara yang monoton? Bayangkan saja, sejak saya masuk SD (1974), cara mengerjakannya begitu saja, tidak ada dinamikanya, kering. Anak tidak bisa menikmati,” tegasnya. Selanjutnya, peristiwa itu memunculkan gagasan untuk mengajarkan matematika dengan cara-cara kreatif alias “gaya bebas” yang dapat membebaskan anak dari rasa bosan dan membodohkan diri sendiri.

Hal itu pula yang mendorongnya untuk menekuni dan mempelajari ilmu matematika. “Padahal, awalnya saya juga kurang suka matematika. Tetapi motivasi untuk membantu anak-anak memahami matematika, membuat jalan hidup saya justru harus menggeluti dunia bilangan yang terus berkembang hingga kini,” lanjut ayah 4 anak ini.

Matematika “gurih”

Menurutnya, untuk menyampaikan matematika agar diminati, khususnya oleh anakanak, maka cara menyajikannya harus terlihat menggairahkan, mengundang selera. Ketika matematika disajikan dengan cara-cara kuno, kering, “tak bergizi”, sudah pasti tidak dapat membangkitkan minat anak. “Salah satu cara yang saya tempuh adalah menambahkan ’gizi‘ dan ’pemanis buatan‘ pada setiap konsep matematika, sehingga matematika menjadi manis di lidah dan renyah untuk dicerna.” Proses penambahan “gizi” dan “pemanis” itu dikenal dengan nama “eksakta integra Islamica”, yaitu menambahkan nilai-nilai Islami dalam setiap konsep matematika yang sedang dipelajari.

“Penyajiannya pun dengan cara dialog antara orangtua-anak atau guru-murid. Konsep matematika pun menjadi semakin berbobot karena ’kandungan gizi‘ nilai-nilai Islami di dalamnya ikut dikupas dan dibahas bersama orangtua-anak,” papar Bekti yang memberi nama perusahaannya, “Eksakta Integra Islamica”, yang memiliki makna menambahkan nilai-nilai Islami dalam setiap konsep matematika yang sedang dipelajari Menekuni ilmu matematika kemudian mengolahnya menjadi “gurih” bukannya tanpa tujuan.

Bekti berharap mampu mengantarkan anak-anak Indonesia agar mampu memahami dan menguasai matematika, khususnya di jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP). Pijakan yang kuat pada tingkat dasar akan memperkokoh bangunan di atasnya, yaitu bangunan “logika” yang luas tanpa tepi. “Jadi, harapannya anak-anak mampu menggunakan logikanya untuk jangka panjang dalam kehidupannya kelak, sehingga mereka tidak mudah dibodohi.”

Namun, Bekti mengaku tidak berambisi untuk “mencetak” anak-anak menjadi juara olimpiade matematika. Menurutnya, menjadi juara dalam sebuah lomba hanyalah salah satu pilihan, tidak wajib. Tetapi “mengorbitkan” anak-anak untuk berani bertanggung jawab terhadap ilmu matematika yang dikuasainya itu jauh lebih penting, lebih sulit, dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa.

Selain ilmu matematika, ilmu bahasa juga sangat penting sekali, terutama untuk anak yang akan mengikuti tes IELTS. Rekomendasi tempat kursus IELTS terbaik di Jakarta adalah yang tepat agar anak siap dan lancar dalam mengerjakan semua soal tersebut.

Nutrisi untuk Anak Bangsa Bagian 2

Nutritalk spesial kali ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. PH. Endang L. Achadi, MPH, guru besar tetap Ilmu Gizi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang mempresentasikan “1000 Hari Pertama yang menentukan Masa Depan Bangsa”.

Juga hadir Dr. Pinky Saptandari, MA, staf khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, yang mempresentasikan “Dukungan Keluarga & Budaya untuk Pemenuhan Gizi Pada Awal Kehidupan”. Puncak acara perayaan ulang tahun ke-60 Sarihusada tahun ini diisi dengan event Fun Walk yang dimulai dari alun-alun Yogyakarta. Usai Fun Walk diadakan games untuk keluarga besar Sarihusada, yaitu lomba kreasi tumpeng, yang bertujuan mendekatkan dan menyosialisasikan pemenuhan tumpeng gizi.

Dalam sambutan dan ucapan terima kasihnya kepada semua pihak, Presiden Direktur Sarihusada, Olivier Pierredon mengatakan, selama 60 tahun melewati kondisi ekonomi yang berbeda-beda serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Sarihusada secara konsisten memproduksi nutrisi ibu dan anak yang berkualitas dan terjangkau, juga cocok bagi masyarakat Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena Sarihusada lahir dan dikembangan oleh bangsa Indonesia. Olivier pun menyampaikan, “Untuk dapat memproduksi nutrisi yang berkualitas, terjangkau, dan dapat diterima oleh lapisan masyarakat terbesar Indonesia, kami mengandalkan penelitian dan inovasi. Inovasi ini juga kami lakukan agar nutrisi yang kami hasilkan sesuai dengan perkembangan zaman dan gaya hidup.”

Tak Mau Makan Buah Potong

Dokter Rifan, kenapa anak saya (2), kok enggak suka sama buahbuahan yang dipotong/dikupas? Setiap dikasih pasti dilepeh. Tapi kalau buahnya dijus langsung diminum habis. Saya khawatir, apakah boleh mengonsumsi buah dijus terus? Apa dampaknya? Saya ingin melatihnya makan buah potong agar giginya terbiasa mengunyah. Saya mohon saran Dokter. Terima kasih. Bunniya – Serang.

Mungkin si kecil belum mampu menelan buah dalam bentuk utuh. Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab, ia tidak menyukai tekstur, rasa, maupun bau dari buah tersebut, re!eks menelan yang belum sepenuhnya optimal, dan sebagainya. Minum jus buah tidak akan menyebabkan dampak negatif bagi si kecil. Namun demikian saya setuju Ibu perlu terus melatihnya memakan buah-buahan langsung (buah segar potong). Latihlah secara bertahap seperti dalam bentuk potongan-potongan yang lebih kecil, lebih halus, dan sebagainya.

Nutrisi untuk Anak Bangsa

Sarihusada dulu bernama NV Saridele hadir di Indonesia sejak 1954 di kota Yogyakarta dengan tujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia yang pada saat itu banyak mengalami kekurangan gizi. Meski bereinkarnasi menjadi Sarihusada, misinya tetap sama, yaitu memberikan nutrisi untuk bangsa Indonesia. Belum lama ini, di usia yang ke-60, PT Sarihusada Generasi Mahardika (Sarihusada) kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung peningkatan kualitas anak Indonesia melalui penyediaan produk nutrisi awal kehidupan yang terjangkau serta program peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi dan kesehatan ibu-anak.

Tema peringatan ulang tahun adalah “Sebuah Cinta Bernama Sarihusada” dengan menggarisbawahi misi Sarihusada bagi kesehatan ibu dan anak Indonesia yang diwujudkan dalam bentuk produk berkualitas, edukasi, dan inisiatif-inisiatif sosial. Salah satu bentuk edukasi yang dijalankan bersamaan dengan perayaan ulang tahun ke-60 di Yogyakarta, Sarihusada mengajak media nasional dan lokal untuk melihat dan membuktikan langsung komitmen Sarihudasa di pabrik Klaten, Jawa Tengah.

Seluruh media yang datang, termasuk nakita, mendapat banyak penjelasan dari sejarah Sarihusada hingga produksi dan kualitas produksinya. Terbukti, sampai 3 tahun berturut-turut Sarihusada menerima Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup. Quality control benar-benar dijaga, mulai kedatangan bahan baku, proses pengolahan, hingga pengepakan. Tak heran jika Sarihusada mengantongi standar food safety nasional maupun global; telah terserti!kasi HACCP, ISO 22000, dan FSSC 22000, juga serti!kasi halal MUI. Sarihusada pun memerhatikan karyawannya dengan baik, dan mengantongi serti!kasi SMK3 dan OHSAS 18000 untuk keamanan karyawan. Karyawan wanita mendapat 4 bulan cuti melahirkan.

Tak sampai di situ, Sarihusada rutin melakukan program Nutritalk, yang juga selalu diikuti nakita, sebuah program diskusi yang melibatkan pakar di bidang gizi, juga wartawan kesehatan dan blogger. Pada saat itu pun masih dalam rangkaian perayaan 60 tahun Sarihusada diselenggarakan Nutritalk dengan tema “Nutrisi Optimal Bagi 1000 Hari Pertama Awal Kehidupan sebagai Investasi bagi Kualitas kesehatan di Masa depan”.

Nutrisi untuk anak bangsa sangatlah penting sekali untuk tumbuh dan kembang anak. Akan tetapi pembelajaran juga hal yang penting pula. Tanpa adanya pembelajaran anak tidak akan mendapatkan ilmu apapun. Untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing bisa mengikuti pelatihan bahasa asing di tempat kursus bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik.

Akuakultur Indonesia Menuju Revolusi Biru

“Dalam SiSTem Dan USaha agribiSniS aKUaKUlTUr yang paling lemah saat ini adalah onfarm. Bagaimana mendorong on-farm ini mengubah paradigmanya dari budaya tradisional ke budaya bisnis dan melihat akuakultur sebagai suatu sistem dan usaha agribisnis untuk mewujudkan revolusi biru,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA.

Apakah Indonesia punya pengalaman revolusi dalam agribisnis?

Kita sudah punya tiga revolusi di bidang agribisnis. Pertama, revolusi hijau di bidang pangan dengan swasembada beras pada 1984. Kedua, revolusi ung – gas mencapai swasembada ayam negeri, baik da – ging maupun telurnya. Dan ketiga, revolusi sawit yang dimulai dari kerjasama antara PTPN dengan petani plasma, lalu datang para pengusaha swasta dan petani mandiri. Sekarang kita menjadi raja sawit dunia karena ada kerjasama yang baik antara para petani, pengusaha, dan pemerintah. Saat ini sekitar 45% dari total sawit tersebut ada di tangan petani. Kata kunci keberhasilan dari ketiga revolusi tersebut adalah kemitraan yang baik antara petani/peternak, pengusaha, dan pemerintah. Masalah utama di perikanan budidaya adalah paradigma para pelakunya termasuk pemerintah yang melihat akuakultur sebagai budaya atau way of life belum sebagai bisnis. Jika melihatnya sebagai bisnis, maka harus mengutamakan pasar dan perhi – tungan laba rugi. Misalnya, pasar membutuhkan udang, maka fokus usaha pada udang termasuk kebijakan, strategi, program, dan sumberdayanya. Dengan demikian bisnis udang ini bisa berkembang lebih besar seperti sawit. Tidak berlebihan jika mengharapkan revolusi agribisnis keempat di Indonesia akan datang dari budidaya udang.

Bagaimana kita memulainya?

Mulailah dengan yang sudah kita miliki dan dari titik paling lemah. Kembangkan model yang tidak menyisihkan rakyat. Subsistem on-farm di akuakultur merupakan titik paling lemah dalam sistem agribis – nis. Sekarang on-farm atau budidaya masih 80% SUARA AGRIBISNIS Bungaran Saragih tradisional, maka mulai dari yang tradisional ini dimo – dernisasi. Perlu diubah paradigmanya dari budaya tra – disional menjadi budaya modern atau budaya bisnis. Lalu perlu dibentuk organisasi bisnisnya, apakah itu dalam satu komoditas atau dalam satu wilayah ter – tentu seperti kluster. Selanjutnya mereka diajarkan ber organisasi secara modern. Jika organisasi ini telah terbentuk, kaitkan dengan industri hulu dan hilirnya secara baik. Biasanya di hulu dan hilir sudah merupakan industri modern dan usaha yang sudah maju.

Karena itu, perlu dikembangkan kemitraan yang baik antara organisasi petambak dan petani ikan (on-farm agribusiness) dengan industri hulu dan hilir (up-stream dan downstream agribusiness). Alasannya, tidak mungkin akan diperoleh industri hulu dan hilir yang maju jika onfarm-nya tetap tradisional. Jadi harus ada semangat kebersamaan, semangat kemitraan yang sinergis satu sama lain sehingga kita bisa menjadikan akuakultur sebagai revolusi biru.

Bagaimana dengan pengembangan riset akuakultur?

Untuk mengembangkan riset modern di perikanan budidaya perlu ditiru pengembangan riset di sawit. Riset di sawit diawali dari riset milik pemerintah, bela – kangan berkembang juga riset modern dari per usa – haan-perusahaan sawit swasta. Dari riset modern ini dihasilkan benih-benih baru, teknologi pupuk dan pe – mupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta pro sesing yang maju. Sementara di akuakultur riset masih sangat tergan – tung pada pemerintah terutama yang dilakukan pu satpusat penelitian di lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sebenarnya perikanan budidaya bisa le bih maju risetnya dan lebih cepat perkembang an nya dengan meniru model yang dikembangkan di in dustri sawit. Dan riset yang baik hanya mungkin dila ku kan perusahaan-perusahaan yang sudah mempu nyai modal dan sumberdaya manusia yang besar dan baik. Penelitian mengenai pembibitan, pakan ikan, obatobatan modern merupakan topik penelitian yang per lu mendapat prioritas dalam pengembangan akua kultur. Dalam hal ini akuakultur bisa belajar dari peng alaman pengembangan agribisnis ayam modern di Indonesia.