Para Istri Menangis dan Memohon Pengampunan Negara

Raut kesedihan terli hat di wajah Chit Su Win dan Pan Ei – Mon, saat keduanya menghadiri jumpa pers, pascavonis hakim Pengadilan Myanmar, yang menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara kepada kedua suami mereka. Wa Lone, suami Pan Ei Mon, dan Kyaw Soe Oo, suami Chit Su Min, adalah dua wartawan Reuters, yang ditangkap saat melakukan peliputan tentang kekerasan terhadap etnis Rohingya, di Provinsi Rakhine, yang mengungsi ke Bangladesh. Pada Selasa (4/9), Pengadilan Myanmar menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara kepada Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, karena dianggap memiliki dokumen ilegal dan melawan negara. Keduanya ditangkap polisi pada Desember 2017. Ketika diberi kesempatan untuk memberi pernyataan, Chit Su Win dan Pan Ei Mon tak mampu menahan tangis. Keduanya menangis dan memohon pengampunan negara, agar suami mereka dapat dibebaskan.

Pan Ei Mon, mengatakan bahwa dia sangat terkejut dengan hukuman tujuh tahun penjara yang dijatuhkan hakim kepada suaminya, Wa Lone. Dia tidak pernah membayangkan bahwa hukuman terhadap suaminya akan seberat itu. “Saya tidak pernah membayangkan hukumannya akan seberat itu, karena semua orang tahu bahwa mereka tidak melakukan kesalahan,” kata Pan, seperti dikutip BBC, Selasa (4/9). Dia mengaku, sangat sedih dan sakit hati dengan vonis tersebut, karena itu berarti dia harus terpisah dengan suaminya, yang bahkan belum sempat melihat putri mereka yang baru dilahirkan. Pan melahirkan anak pertamanya bersama Wa Lone pada 9 Agustus 2018. “Setelah saya melahirkan, saya harus tetap kuat dengan harapan bahwa putri saya dan ayahnya akan segera bertemu. Tapi saya merasa harapan itu hancur setelah vonis hakim. Saya putus asa sekarang,” kata Pan, sambil meneteskan air mata. Hal yang sama juga disampaikan Chit Su Win, istri Kyaw Soe Oo. Dia berbicara kepada wartawan dengan suara yang tersendat-sendat sambil meneteskan air mata. “Saya awalnya percaya bahwa suami saya akan bebas. Tapi itu tidak terjadi, saya merasa seperti orang gila,” ujarnya. Membebaskan Para pengacara untuk dua wartawan Reuters, mengaku akan melakukan segala upaya untuk membebaskan klien mereka.

Selain mengajukan banding atau meminta pengampunan negara, para pengacara berharap kedua wartawan itu dapat dibebaskan di bawah amnesti umum bagi tahanan. Kasus penahanan dua wartawan Reuters yang telah dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara tersebut, menarik perhatian dunia. Sejumlah lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) bahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Myanmar, telah mengeluarkan kecaman terhadap putusan Pengadilan Myanmar. Tak hanya itu, sejumlah lembaga HAM juga mengkritik tokoh HAM Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang menjadi pemimpin pemerintahan. Meskipun militer yang memerintah negara itu selama setengah abad, Suu Kyi kini memegang kendali utama pemerintahan, setelah partainya menang dalam pemilihan umum pada 2016. Suu Kyi telah bersumpah untuk melakukan transisi yang dipercepat menuju demokrasi penuh. Namun sikapnya terhadap krisis Rohingya telah mengecewakan pendukungnya dan dunia internasional. Peraih Nobel Perdamaian itu, dianggap tak mampu mengendalikan kekerasan terhadap Etnis Rohingya, yang diduga dilakukan oleh kelompok radikal Budha dan didukung oleh kepolisian. Pan Ei Mon mengatakan sangat sedih karena Suu Kyi kini memiliki sikap yang berbeda.

Dalam wawancara dengan penyiar Jepang NHK, pada Juni 2018,Suu Kyi mengatakan bahwa dua wartawan ditangkap karena melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi, bukan karena mereka mengekspos pelanggaran militer. “Kami sangat sedih karena pernyataan itu disampaikan oleh orang yang selalu kita kagumi dan hormati. Kami merasa sangat sedih karena orang yang kami hormati memiliki pendapat yang salah tentang suami kami,” ujar Pan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *